Pages

Rabu, 24 Desember 2014

Wanita di Dalam Pandangan Nasional-Sosialisme/Fasisme

Poster-poster Jerman yang menggambarkan bagaimana karakteristik seorang Wanita/Ibu seharusnya.


Wanita-wanita pun dapat tetap berkarya, bahkan di dalam angkatan bersenjata Jerman sekali pun!


 Hanna Reitsch, seorang wanita yang memperoleh penghargaan dari Nazi Jerman.


 Mutterkreuz, (nama panjangnya Ehrenkreuz der Deutschen Mutter) adalah sebuah salib penghargaan yang diberikan kepada wanita yang berprestasi kepada The Third Reich!


Oleh : Byoma Ganendra

Tampaknya banyak yang masih mengira bahwa NS/Fasisme adalah ideologi yang memandang rendah kaum wanita. Banyak yang memahami bahwa NS/Fasisme mengekang kehidupan wanita dan melarang mereka berkarya, atau justru malah hanya mengizinkan bahwa wanita hanya seputar mengurusi dapur, anak-anak bahkan lebih parahnya ada yang mengartikan bahwa NS/Fasisme memandang wanita sebagai pabrik produksi bagi anak-anak masa depan Negara. Pandangan yang ekstrim sekali salahnya....
Pandangan itu sangatlah sesat dan tidak benar sama sekali. NS/Fasisme sangat menghargai wanita.
Sebagai contoh, kebijakan Der Fuhrer Adolf Hitler sendiri semasa beliau menguasai Jerman Reich. Dalam pandangan beliau, wanita yang baik adalah wanita yang mampu mengurus dan membina keluarganya dengan baik. Wanita yang baik adalah wanita yang mmpu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka dan menjadi istri yang baik bagi suami mereka. Mengapa Der Fuher menekankan demikian? Sebab beliau memandang bahwa figur seorang ibu dalam kehidupan berkeluarga adalah figur yang paling penting. Seorang ibu adalah figur yang akan membentuk karateristik seorang anak, figur yang akan menjaga anak-anak selama ayah mereka bertugas diluar rumah. Bahkan beliau sampai membuat medali penghargaan bagi ibu-ibu yang dinilai mampu membina keluarga mereka dengan baik. Medali tersebut adalah “Mutterkreuz”.
Namun bukan berarti, Der Fuhrer memandang wanita sebatas itu saja. Beliau mengizinkan para wanita yang muda untuk berpartisipasi dalam perkembangan Reich Ketiga yang beliau pimpin. Sebagai bukti, kaum wanita muda sendiri banyak yang bergabung dalam Hitlerjugend (barisan pemuda Hitler) sebagai bentuk aktivitas mereka diluar rumah. Bahkan seorang wanita Jerman bernama Hanna Reitsch mencetak prestasi yang mengagumkan dan mengharumkan nama Reich Ketiga. Di sisi lain, seorang wanita juga dapat bergabung di dalam DRK (Deutsches Rotes Kreuz) atau Palang Merah Jerman, yang mana membantu para prajurit-prajurit yang terluka selama di medan pertempuran.
NS/Fasisme memang menolak ide-ide Emansipasi Wanita dari kaum Liberal/Kapitalis yang menyatakan untuk memberikan wanita kebebasan yang besar dalam rangka persamaan derajat pria dan wanita. Bagi NS/Fasis, wanita tetap memiliki apa yang disebut oleh kita sebagai kodratnya atau tempatnya namun NS/Fasisme tidak mengekang mereka untuk berkarya selama itu tidak membuat wanita lupa akan posisi mereka dan tidak membahayakan posisi mereka sendiri. Wanita yang sudah menikah dan memiliki anak dianjurkan oleh NS/Fasisme untuk berkonsentrasi dalam membina keluarganya dan menjadi figur ibu yang baik demi kebaikan bersama sendiri, namun kaum Liberal/Kapitalis senantiasa memandang ide tersebut sebagai pembatasan dan pengekangan dan kaum NS/Fasis membantah dengan menyatakan ide tersebut sebagai bentuk proteksi. Kebebasan itu harus diproteksi dengan nilai-nilai dan aturan yang ketat. NS/Fasisme menolak wanita menjadi objek eksploitasi kebebasan. Justru ide-ide NS/Fasisme mengandung nilai-nilai proteksi yang besar terhadap masa depan tidak hanya wanita namun juga kehidupan berkeluarga dalam negara....
 Emansipasi wanita ala Kartini memang sudah patut dipertanyakan. Bahkan buku Kartini yang berjudul "Habislah Gelap Terbitlah Terang" juga sudah mulai diragukan kebenarannya. Diragukan disini bukan berarti diragukan keotentikannya, namun diragukan hasil permikiran dari Kartini itu sendiri. Saya pernah mendengar dari dosen saya bahwa beliau melakukan penelitian mengenai tulisan Kartini tersebut termasuk surat-suratnya kepada teman-temannta di Belanda dan ternyata hasilnya bahwa tulisan Kartini tersebut sebenarnya bermakna pro Kolonialisme Barat terhadap bangsa Asia Timur Raya. Hal ini disebabkan bahwa makna Terang dalam tulisan Kartini bermakna peradaban Barat dan makna Gelap itu sendiri bermakna keadaan bangsa Asia khususnya Indonesia yang dalam pandangan Kartini sebagai bangsa yang Barbar/Tidak Beradab. Oleh karena itu Kartini menerima konsep Kolonialisme Barat sebagai bentuk upaya bangsa Barat memberikan pencerahan kepada bangsa-bangsa lainnya khususnya bangsa Indonesia sehingga Indonesia dapat keluar dari kebarbarannya dan hidup menurut konsep milik Barat. Pemikiran inilah yang nantinya akan mendasari lahirnya ide-ide pro Westrenisasi dan menyebabkan bangsa Timur kehilangan identitas dan kebanggaannya terhadap tradisi Ketimuran mereka.
Jika memang demikian, maka Kartini seharusnya dihapuskan dari daftar Pahlawan Indonesia dan dimasukkan ke dalam daftar pengkhianat tidak hanya bangsa Indonesia namun juga seluruh bangsa Timur karena mendukung Kolonialisme Barat atas Bangsa Asia Timur Raya...
Sebab memang Belanda telah menanamkan mindset melalui pendidikan ala Barat mereka agar membuat bangsa Indonesia secara perlahan tunduk kepada Belanda karena dianggap membawa perubahan bagi nilai-nilai tradisi bangsa...
Kalau pun memang itu adalah judul buku yang Kartini tulis, isinya pasti akan membaik-baikan Belanda dan menyatakan Belanda sebagai pembawa pencerahan bagi kehidupan bangsanya. Belanda datang dengan sistem dan pola yang dianggap mampu mengubah kehidupan bangsa Indonesia. Baginya kebudayaan asli adalah sikap Barbarisme. Kebudayaan asli telah menjatuhkan martabat suatu bangsa karenannya sistem Barat haruslah diterapkan dan bangsa yang maju adalah bangsa yang meniru kebudayaan Barat dan mengadopsinya dalam kehidupan mereka. Itulah isi pemikiran Kartini... Otaknya tampaknya adalah otak kebarat-baratan karenannya dia mendukung konsep Kolonialisme... Pencerahan dapat dibawa melalui kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa diluar Eropa...
 

Sumber : Analisis pribadi mengacu dari beberapa sumber.

0 komentar:

Posting Komentar